Thursday, September 17, 2015

VPN (Virtual Private Network)



Saat ini banyak perusahaan menghubungkan sistem terintegrasinya dengan menggunakan solusi hemat teknologi tepat seperti Virtual Private Network (VPN), mengapa hemat karena dilewatkan di jaringan Internet, jadi kita hanya berlangganan Internet pada sebuah provider dengan kecepatan tertentu dan memilih teknologi VPNnya. Dengan menggunakan VPN kita seakan-akan membuat jaringan private / khusus dengan melewati jaringan publik seperti Internet, teknologi ini memungkinkan dapat mereduksi biaya dan aman karena menggunakan metode enkripsi.
Ada tiga macam tipe sebuah VPN, yaitu Acces VPN, Intranet VPN dan Extranet VPN.
Access VPN : membuat koneksi jarak jauh untuk mengakses ke jaringan intranet atau ekstranet pelanggan dan pengguna bergerak dengan menggunakan infrastruktur analog,dial-up, ISDN, DSL, Mobile IP untuk membuat koneksi yang aman bagi mobile user, telecommuters dan kantor cabang.
Intranet VPN : menghubungkan kantor pusat, kantor cabang, dan remote user ke dalam jaringan internal dengan menggunakan infrastruktur koneksi yang terdedikasi.
Extranet VPN : menghubungkan dengan pihak luar seperti pelanggan, supplier, rekan bisnis, atau suatu komunitas ke dalam jaringan internal dengan menggunakan koneksi dedicated. Koneksi ini menghubungkan jaringan internal dengan jaringan di luar perusahaan.
VPN merupakan suatu koneksi antar dua jaringan yang dibuat untuk mengkoneksikan kantor pusat, kantor cabang, telecommuters, suppliers, dan rekan bisnis lainnya, ke dalam suatu jaringan dengan menggunakan infrastruktur telekomunikasi umum dan menggunakan metode enkripsi tertentu sebagai media pengamanannya (Kevin, 2001). VPN merupakan sebuah jaringan private yang menghubungkan satu node jaringan ke node jaringan lainnya dengan menggunakan jaringan public seperti Internet. Data yang dilewatkan akan diencapsulation (dibungkus) dan dienkripsi, supaya data tersebut terjamin kerahasiaannya.
Tunneling adalah salah satu metode yang digunakan untuk mentransfer data melewati infrastruktur interkoneksi jaringan dari satu jaringan ke jaringan lainnya seperti jaringan internet, data yang ditransfer (payload) dapat berupa frames (atau paket) dari protocol yang lain. Tunnel mengambarkan paket data secara logika yang di encapsulation (dibungkung) melewati interkoneksi jaringan. Proses tunnelingya meliputi proses encapsulations, transmisi, dan decapsulations paket. (Microsoft, VPN with windows 2003, 2003 : 9)
Peningkatan penggunaan koneksi VPN dari tahun ke tahun karena murahnya infrastruktur yang dibutuhkan oleh VPN serta mudahnya dalam instalasi, maka koneksi ini lebih efisien dibandingkan dengan metode WAN. Jaringan VPN dikoneksikan oleh ISP lewat routernya ke router-router lain dengan mengunakan jalur Internet yang telah dienkripsi antara dua titik, dengan menggunakan leased line untuk hubungan jarak jauh dengan VPN, perusahaan dapat menghemat 20 sampai 40% dari biaya WAN.
Sistem keamanan di VPN menggunakan beberapa metode lapisan sistem keamanan, diantaranya ;
1. Metode tunneling (terowongan), membuat terowongan virtual diatas jaringan publik menggunakan protocol seperti Point to Point Protocol (PPTP), Layer 2 Tunneling Protocol (L2TP), Generic Routing Encapsulation (GRE) atau IP Sec. PPTP dan L2TP adalah layer 2 tunneling protocol. keduanya melakukan pembungkusan payload pada frame Point to Point Protocol (PPP) untuk di lewatkan pada jaringan. IP Sec berada di layer 3 yang menggunakan packet, yang akan melakukan pembungkusan IP header sebelum dikirim ke jaringan.
2. Metode Enkrpsi untuk Encapsulations (membungkus) paket data yang lewat di dalam tunneling, data yang dilewatkan pada pembungkusan tersebut, data disini akan dirubah dengan metode algoritma kripthography tertentu seperti DES, 3DES, atau AES.
3. Metode Otentikasi User, karena banyak user yang akan mengakses biasanya digunakan beberapa metode otentikasi user seperti Remote Access Dial In User Services (RADIUS) dan Digital Certificates.
4. Integritas Data, paket data yang dilewatkan di jaringan publik perlu penjaminan integritas data / kepercayaan data apakah terjadi perubahan atau tidak. Metode VPN menggunakan HMA C-MD5 atau HMA C-SHA1 untuk menjadi paket tidak dirubah pada saat pengiriman.

Tuesday, August 25, 2015

Teknologi Transmisi Radio Microwave Point to Point pada Jaringan Telekomunikasi


Saat ini, dengan mudahnya kita bisa berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, relasi yang sedang berada di belahan bumi lain, di kota, di desa, di banyak tempat. Teknologi telekomunikasi bergerak telah menghubungkan banyak manusia untuk dapat saling bertukar kabar, berkomunikasi melepas rindu, menjalankan bisnis, maupun untuk belajar.
Seseorang berbicara, mendengar, menonton video, menjelajahi dunia internet, dan berbagi foto, melalui telefon pintar (smart phone) di tangannya yang kemudian dikonversi menjadi gelombang radio yang dikirimkan ke base station (BS) terdekat. Gelombang radio ini diteruskan ke tower BS lain menuju pusat untuk dikirimkan ke tujuan. Salah satu pendukung yang vital bagi jaringan telekomunikasi bergerak adalah teknologi transmisi radio gelombang mikro (microwave point to point) (Radio MW PTP) yang menghubungkan satu BS ke BS yang lain.
Perangkat Radio MW PTP ini bagaikan kabel di udara yang tak terlihat dalam menghubungkan antar BS dengan menggunakan gelombang elektromagnetik. Selain gelombang elektromagnetik, antar BS bisa juga dihubungkan dengan kabel fiber optic (serat optik), dan kabel copper (tembaga). Kelebihan dari Radio MW PTP ini adalah kecepatan instalasi perangkat dibandingkan kabel serat optik dan kabel tembaga yang membutuhkan waktu lama karena harus menggali maupun menggelar kabel yang panjang. Selain cepat dalam instalasi, Radio MW PTP juga sangat fleksibel sehingga bisa dipakai di tempat-tempat yang tidak mungkin digelar kabel serat optik maupun kabel tembaga seperti daerah yang melintasi sungai, ladang gambut, hutan, dan gunung.
Perangkat ini menggunakan istilah microwave atau gelombang mikro karena bekerja pada radio frekuensi 4 GHz hingga 80 GHz, yang memilik panjang gelombang dari orde sentimeter hingga millimeter. Radio MW PTP juga ada tiga macam, yaitu split radio dan fully indoor radio. Split radio memisahkan posisi perangkat yaitu antena dan radio yang terletak di outdoor dihubungkan melalui kabel coax ke perangkat di indoor yang melakukan pemrosesan data seperti modulasi, koneksi kabel data. Perangkat indoor ini bisa di dalam shelter maupun di luar shelter tergantung seberapa besar kapasitas perangkat yang mengakibatkan seberapa panas perangkat tersebut, karena kondisi di luar shelter sangat panas dan tidak cukup untuk mendinginkan perangkat dengan hanya mengandalkan kipas saja. Fully indoor radio menggabungkan seluruh pemrosesan data dan radio di dalam indoor kemudian menghubungkan ke antenna yang berada di outdoor dengan menggunakan kabel waveguide. Tipe terakhir adalah fully outdoor radio dimana proses radio frekuensi, modulasi, interface kabel Ethernet dalam bentuk elektrik maupun serat optik terjadi pada satu unit perangkat radio yang terletak di outdoor.
Pada kesempatan ini dibahas perkembangan teknologi Radio MW PTP yang tipe split radio yang biasanya digunakan untuk menghubungkan antar BS dari radio access BS menuju ke hub microwave, maupun menuju ke node serat optik. Sekitar tahun 2006, terutama di Indonesia, sedang booming teknologi telekomunikasi bergerak generasi ketiga (3G) yang ketika itu dapat mengeluarkan data dalam bentuk paket dengan interface kabel Ethernet. Sedangkan sebelumnya, perangkat ini hanya mengeluarkan data dalam bentuk teknologi plesiochronous digital hierarchy (PDH) yaitu berupa E1 (sekitar 2 Mbps) maupun T1 (sekitar 1,5 Mbps). Kumpulan E1 yang semakin banyak hingga mencapai 64 E1 akan dibungkus dengan tekonolgi synchronous digital hierarchy (SDH) yaitu STM-1 (155 Mbps), dan jika bertambah akan menjadi STM-4, STM-16, dan sterusnya. Pada awalnya Radio MW PTP ini terpisah antara Radio PDH maupun Radio SDH. Seiring dengan kemajuan zaman, kedua teknologi ini digabungkan dalam satu magazine di dalam indoor dan menggunakan radio yang sama di outdoor.
Selanjutnya pada era 3G mulai terjadi migrasi dari teknologi SDH dan PDH pada Radio MW PTP menuju teknologi IP/Ethernet. Sedikit demi sedikit proses migrasi dan perekembangan teknologi pun terjadi, dimana tahap awal data Ethernet yang masuk ke perangkat Radio MW PTP dibungkus dengan teknologi PDH, maupun langsung dibungkus dengan teknologi SDH, untuk kemudian dikirimkan ke unit radio yang terletak di outdoor. Semaking canggih tekonologi, akhirnya Radio MW PTP pun bisa langsung mengirimkan data IP/Ethernet langsung ke radio unit tanpa perlu dibungkus teknologi SDH maupun PDH. Dengan kemampuan bisa mengirimkan langsung data IP/Ethernet ke frekuensi radio, maka dengan teknologi radio bonding maka beberapa radio unit bisa seolah-olah menjadi satu gelondong yang mengirimkan data IP/Ethernet. Sebagai contoh dua unit radio pada frekuensi 7 GHz dengan bandwidth 56 MHz, modulasi 512 QAM, maka seolah-olah bisa mengirimkan data dengan kecepatan 1 Gbps. Jika satu buah radio mati, maka seolah-olah “pipa” ini mengecil bisa mengirimkan data setengahnya yaitu dengan kecepatan 500 Mbps.
Masih banyak lagi fitur pada teknologi Radio MW PTP seperti modulasi adaptif, cross polarization interference cancellication (XPIC), yang menarik untuk dibahas pada kesempatan lain. Begitu juga, Radio MW PTP tipe fully indoor untuk trunk atau backbone dibahas pada kesempatan berikutnya.

 Arsitektur Radio Microwave Point to Point Network Melalui Radio TN (Radio Seluler)

Foto split microwave point to point radio unit menempel langsung pada antenna dan dihubungkan dengan modem (IDU) melalui coax cable



Thursday, June 4, 2015

Teknologi DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing)



 



Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi semakin meningkat sejalan dengan kebutuhan masyarakat pada sarana/layanan komunikasi yang handal dan canggih saat ini hingga dimasa mendatang. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka diperlukan suatu jaringan sistem telekomunikasi yang mampu memberikan QoS (Quality of Service) yang terbaik. Dengan adanya perkembangan teknologi jaringan transport berbasis serat optic yang sebelumnya hanya mampu mentransmisikan data pada orde mega bit per second(Mbps), sekarang ini sudah mampu untuk  ditransmisikan pada orde giga bit per second(Gbps) bahkan lebih cepat lagi bisa mencapai tera bit per second(Tbps) sehingga dapat memberikan fleksibilitas yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan kapasitas transmisi pada jaringan. Teknologi jaringan transport ini berawal dari teknologi SDH(Synchronous Digital Hierarchy) dan PDH(Plesiochronous Digital Hierarchy) yang kemudian disusul oleh teknologi jaringan yang beroperasi dalam sinyal dan domain(optic) panjang gelombang yaitu DWDM(Dense Wavelength Division Multiplexing).
Dense Wavelength Division Multiplexing(DWDM) merupakan suatu teknologi jaringan transport yang memanfaatkan cahaya dari serat optik dengan panjang gelombang yang berbeda-beda untuk ditransmisikan melalui kanal-kanal informasi dalam satu fiber tunggal. Jumlah panjang gelombang yang dapat ditransmisikan dalam jaringan pada satu fiber terus berkembang(4, 8, 16, 32, dan seterusnya), jenis fiber yang direkomendasikan oleh ITU-T (International Telecommunication Union) adalah G.650 – G.659 dan yang sering digunakan saat ini yaitu jenis fiber G.655, jenis fiber G.655 merupakan jenis fiber yang mempunyai karakteristik umum Non Zero Dispersion Shifted Fibre(NZDSF)  yaitu fiber yang memiliki koefisien dispersi kromatik lebih rendah(dispersi optimal).

 
Gambar 1. Chromatic Dispersion
Prinsip kerja dari teknologi DWDM secara umum memilki persamaan dengan media transmisi lainnya dalam mengirimkan sinyal informasi dari satu tempat ke tempat lain. Untuk teknologi DWDM menggunakan media transmisi berupa fiber optic, dimana semua sumber sinyal informasi(λ1-λn) dari transmiter akan dimultipleksikan ke dalam satu fiber, setelah itu sinyal informasi tersebut ditransmisikan kemudian masuk ke perangkat demuktiplekser untuk disebarkan kembali sesuai tujuan masing-masing sinyal yang akan diterima oleh receiver.

 

Gambar 2. Prinsip Kerja Jaringan Transport(DWDM)
Pada teknologi DWDM ini terdapat komponen pendukung diantaranya jenis filter, serat optic dan penguat optik. Jenis filter yang digunakan pada umumya antara lain Dichroic interference Filters(DIF), Fiber Bragg Gratings(FBG), Array Wavegiude Filters(AWG) dan Hybrid Fused Cascade Fiber(FCF) dengan Mach-Zehnder(M-Z) interference. Komponen selanjutnya adalah serat optic dengan dispersi yang rendah, sementara penguat optic yang banyak digunakan adalah EDFA(Erbium Doped fibre Amplifier(1530-1565 nm)) dan msih banyak lagi jenis penguat lainnya contoh raman amplifier dll. Penggunaan penguat optic sangat penting peranannya di dalam perkembangan teknologi DWDM tersebut sebagai penguat sinyal optic dan proses 3R(Reshaping,Regenerating,Retiming) untuk menjaga kualitas sinyal yang maksimal.

Keuntungan menggunakan teknologi DWDM :
  1. Mampu untuk memenuhi kebutuhan kapasitas jaringan dimasa depan
  2. Dapat mengakomodasi layanan baru dan transparansi terhadap format sinyal dan protocol jaringan.
  3. Mampu untuk diimplementasikan pada jaringan telekomunikasi jarak jauh(long haul)
  4. Dapat menyediakan kebutuhan Bandwidth yang sangat cepat
  5. Teknologi DWDM dapat mentransmisikan banyak panjang gelombang(λ) dalam satu fiber
  6. Penghematan biaya (low cost) dalam pembangunan infrastruktur jaringan fiber optic

Tuesday, March 24, 2015

Protokol Jaringan


Pengertian Protokol Jaringan adalah satu set aturan yang mengatur online komunikasi di antara beberapa buah komputer yang ada dalam suatu jaringan. Peraturan-peraturan tersebut termasuk pedoman yang mencakup beberapa kriteria-kriteria sebuah jaringan. Ini termasuk cara mengakses, topologi fisik yang diizinkan, jenis-jenis perkabelan, dan kecepatan pengiriman data. Protokol Jaringan diibaratkan sebagai bahasa komunikasi antar komputer dalam jaringan



Jenis-Jenis Protokol Jaringan
Contoh-contoh protokol yang paling populer digunakan adalah:
  1. Ethernet
  2. Local Talk
  3. Token Ring
  4. FDDI
Protokol Jaringan Ethernet
Protokol Jaringan Ethernet merupakan protokol yang paling banyak digunakan. Ethernet menggunakan cara masuknya (access method) yang dikenal sebagai CSMA / CD (Carrier Sense Multiple Access / Collision Detection).
Ia merupakan suatu sistem di mana setiap komputer menunggu instruksi melalui kabel sebelum mengirim pesan melalui jaringan. Jika jaringan ditemukan tidak sibuk, barulah komputer tersebut menyampaikan informasi atau pesan. Jika satu node lain sebelumnya telah menyiarkan pesan melalui kabel, komputer tersebut akan menunggu dan akan mencoba kembali ketika rute mengizinkan.
Terkadang ada dua komputer yang kebetulan mengirim pesan pada waktu yang bersamaan. Bila kejadian ini terjadi maka akan terjadilah tabrakan. Kedua komputer tersebut akan mundur sementara sebelum mengirim pesan kembali. Dengan sistem pengiriman yang sebegini, pelanggaran merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, keterlambatan yang terjadi akibat tabrakan dan pengiriman kembali data itu tadi, adalah kecil dan biasanya tidak mempengaruhi kecepatan transmisi data di dalam jaringan.
Protokol Jaringan Ethernet biasanya digunakan untuk topologi linear bus, bintang atau pepohonan. Data bisa dikirim menggunakan kabel pasangan berpintal (twisted pair), kabel sipaksi (coaxial) atau kabel fiber optik pada kecepatan 10 Mbps.
Protokol Jaringan Ethernet Cepat  (FAST ETHERNET)
Untuk meningkatkan pengiriman informasi yang lebih cepat, protokol Ethernet telah membangun suatu standar yang mendukung dan memungkinkan 100 Mbs. Inilah yang dikenal sebagai Ethernet pantas.Ethernet cepat membutuhkan penggunaan concentrator atau pusat yang berbeda dan lebih mahal biayanya dan jaringan kartu antarmuka (network interface card). Sebagai tambahan, kabel 5 pasangan berpintal (twisted pair) atau kabel fiber optik jika perlu.
Protokol Jaringan Local Talk
Local Talk adalah protokol jaringan yang dikembangkan oleh Apple Computer untuk Komputer Macintosh. Cara yang digunakan oleh Local Talk disebut CSMA / CA (Carrier Sense Multiple Access dengan Collision Avoidance). Ia hampir sama dengan CSMA / CD kecuali komputer memberi sinyal sebelum data akan dikirim. Adapter untuk Local Talk dan kabel pasangan berpintal yang khusus bisa digunakan untuk menghubungkan satu seri komputer menggunakan port bersiri. Sistem operasi Macintosh memungkinkan sitem operasi sesama client (peer-to-peer) tanpa perlu perangkat lunak tambahan. Dengan penambahan versi file server dari perangkat lunak AppleShare, sistem klien-server (client-server) bleh dilaksanakan.
Protokol Local Talk mengizinkan topologi linear bus atau topologi tree dengan menggunakan kabel pasangan berpintal. Satu kekurangan kecil untuk Local Talk adalah dari segi kecepatan. Kecepatan untuk pengiriman informasi untuk Local Talk hanya 230 Kbps.
Protokol Jaringan  Token Ring
Protokol Jaringan Token Ring dikembangkan oleh perusahaan IBM pada pertengahan tahun 1980-an. Cara masuknya (access method) menggunakan cara pengiriman informasi di dalam suatu lingkaran.
Di dalam Token Ring, beberapa komputer dihubungkan untuk memungkinkan sinyal tinggal di sepanjang online jaringan komputer tersebut. Satu token elektronik bergerak mengelilingi lingkaran dari satu komputer ke satu komputer dan jika komputer tersebut tidak memiliki informasi untuk dikirim, ia akan bergerak melewati komputer tersebut ke stasiun kerja berikutnya. Jika komputer tersebut akan mengirimkan informasi, ia akan mengisi data atau informasi kepada token yang datang kepadanya.
Token tersebut kemudian bergerak melanjutkan perjalanannya hingga ia sampai ke komputer di mana data atau informasi tersebut akan dikirim. Pada titik ini, data atau informasi tersebut akan diperoleh oleh komputer yang menerima.
Protokol Jaringan Token Ring  menghendaki topologi Star-Ring (star-wired ring) dengan petunjuk kabel pasangan berpintal (twisted pair) atau kabel fiber optik. Ia bisa beroperasi pada kecepatan 4 Mbps atau 16 Mpbs. Oleh karena penggunaan Ethernet yang semakin populer, lingkungan sekolah semakin kurang menggunakan Gelang Token.
Protokol Jaringan  Fiber Distributed Data Interface (FDDI)
merupakan satu protokol jaringan terutama untuk menghubungkan dua atau lebih jaringan area lokal, untuk meliputi wilayah yang jauh jaraknya.
Cara masuk (access method) yang digunakan oleh FDDI juga melibatkan pengiriman token. FDDI menggunakan topologi fisik Ring kembar. Pengiriman biasanya terjadi pada salah satu dari token atau Ring, namun begitu jika terjadi kegagalan di dalam jaringan, sistem tersebut akan menggerakkan informasi secara otomatis menggunakan perjalanan jaringan yang kedua menciptakan satu jaringan baru yang lengkap.
Kelebihan yang signifikan untuk penggunaan FDDI adalah kecepatan di dalam pengiriman informasi. Ia beroperasi menggunakan kabel fiber optik di 100 Mbps. Lengkapnya baca artikel Protokol jaringan  Fiber Distributed Data Interface (FDDI)

Tuesday, October 7, 2014

Link Budget

Link budget merupakan sebuah cara untuk menghitung mengenai semua parameter dalam transmisi sinyal, mulai dari gain dan losses dari Tx sampai Rx melalui media transmisi. Dalam hal ini perhitungan dengan media transmisi Wifi.
Link merupakan parameter dalam merencanakan suatu jaringan yang menggunakan media transmisi berbagai macam. Link budget ini dihitung berdasarkan jarak antara transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link budget juga dihitung karena adanya penghalang antara Tx dan Rx misal gedung atau pepohonan. Link budget juga dihitung dengan melihat spesifikasi yang ada pada antenna.
Pada artikel ini link budget yang akan dihitung adalah
  • Free Space Loss
  • Fresnel Zone Clearance
  • RX Signal Level
  • SOM  (System Operating Margin)
Untuk lebih jelasnya pada artikel ini juga akan disertakan contoh parameter antenna yang dibutuhkan dalam perhitungan tersebut. Parameter tersebut antara lain
—   Jarak (d) terjauh antara antenna pemancar (Tx) dengan antenna penerima (Rx). Misal jarak tersebut sekitar 1 Km, dan jarak ini harus kita konversi ke mil. Sekitar 0.6 mil
—   Frekuensi BS dan Antena penerima, ini merupakan frekuensi standart 2,4 GHz. Frekuensi Wifi yang sudah gratis.
—   TX Power  merupakan daya dari AP (Access Point) yang akan kita gunakan. Misalnya sebesar 22 dBm. Tidak menggunakan satuan watt, harus ke dBm. Untuk konversi dari waat ke dBm akan disampaikan di bawah.
—   TX Cable Loss ini merupakan loss atau kerugian yang terjadi karena kabel yang kita gunakan. Misal loss yang terjadi sekitar 2 dB. Loss ini biasanya terjadi pada kabel antara penghubung dari antenna ke AP. Yang biasa disebut dengan kabel pigtail.pigtail biasanya terbuata dari kabel coaxial. Dan diusahakan jangan menggunakan kabel pigtail yang terlalu panjang. Biasanya panjang pigtail di pasaran sekitar 50 cm.
—    TX Antenna Gain  merupakan daya terpancar dari antenna yang kita gunakan. Misal menggunakan antenna omni directional 12 dB. Itulah yang dimaksud dengan Tx antenna gain (12 dB).
—    RX Antenna Gain  merupakan daya yang dihasilkan dari antenna penerima, misal kita menggunakan antenna grid 15 dB.
—   RX cable Loss sebenarnya hamper sama dengan Tx kabel loss, hanya saja ini terjadi pada daerah penerima atau antenna penerima. Misal 2 dB.
—   RX Sensitivity merupakan sensitivitas dari antenna penerima dalam hal menangkap sinyal wifi dari antenna pemancar. Misalnya sebesar -68 dBm.
Parameter-parameter tersebut biasanya sudah tercantum dalam datasheet peralatan dalam mendirikan infrastruktur wifi.
Gambaran link budget tersebut dapat dilihat di bawah ini.


1. Free Space Loss (FSL)
Pada saat sinyal radio berpropagasi di udara akan mengalami redaman dari udara. Besarnya redaman yang terjadi dapat dihitung secara empiris. Redaman itulah yang disebut dengan Free Space Loss.
Free Space Loss (dB) = 20 Log10 (MHz) + 20 Log10 (Distance Miles) + 36.6
Setelah dihitung didapatkan nilai FSL sebesar 99.8 dB
2. Fresnel Zone Clearance merupakan diameter antara antenna pemancar dengan antenna penerima dimana diantara kedua antenna tersebut ada penghalang. Maka Fresnel Zone Clearance (FZC) adalah diameter antara penghalang dengan LOS antara tx dan rx. Untuk lebih jelasnya mengenai FZC, bisa dilihat gambar di bawah ini.

 

Dari gambar diatas FZC adalah r. besarnya r adalah 3.29 meter dan 80% FSC adalah 2.63 m. Nilai FZC ini dihitung berdasarkan kondisi permukaan bumu yang datar. Karena dengan wifi pada frekuensi 2.4 GHz ini jaraknya tidak bisa sejauh jarak antenna microwave. Yang jaraknya bisa jauh sekali. Karena sinyal wifi dapat terserapoleh air, seperti air pada pepohonan
3. Rx Sinyal Level (daya yang diterima) dapat dihitung dengan menambahkan dan mengurani daya pancar (TX power) dengan berbagai parameter yang ada dalam sebuah persamaan yang sederhana, yaitu,
Rx signal level = Tx power – Tx cable loss + Tx antenna gain – FSL+ Rx antenna        gain – Rx cable loss.
Dari hitungan yang telah dilakukan Rx sinyal level didapatkan = -54.8 dBm
4. Setelah kita mempunyai semua data / parameter yang dibutuhkan kita dapat menghitung System Operating Margin (SOM) untuk meyakinkan bahwa system yang kita kerjakan akan bekerja secara benar. Pada dasarnya System Operating Margin (SOM) menghitung selisih antara sinyal yang di terima dengan sensitifitas penerima. Maka rumusnya adalah
SOM = Rx signal level – Rx sensitivity
Maka dari file excel yang sudah ada mengenai perhitungan link budget di dapat nilai SOM adalah 13.2 dB. Dalam kehidupan nyata nilai SOM iniharus kita atur nilainya antara 10-15 dB. Karena untuk mengurangi efek Fading dan  Multipath karena efek tersebut bisa sangat menganggu sinyal kita.

Media Transmisi Fiber Optik

Fiber Optik merupakan saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau plastik yang digunakan untuk mentransmisikan data dengan cara merubah sinyal listrik menjadi  cahaya. Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser, leser digunakan karena mempunyai lebar spektrum yang sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi. Di bawah ini contoh gambaran sederhana mengenai fiber optik single mode.

Serat optik terdiri dari 2 bagian, yaitu cladding dan core. Cladding adalah selubung dari core. Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali kedalam core lagi.
Penemuan fiber optik sebagai media transmisi pada suatu sistem komunikasi didasarkan pada hukum Snellius untuk perambatan cahaya pada media transparan seperti pada kaca yang terbuat dari kuartz kualitas tinggi dan dibentuk dari dua lapisan utama yaitu lapisan  inti yang biasanya disebut core terletak pada lapisan yang paling dalam dengan indeks bias  n1 dan dilapisi oleh cladding dengan indeks bias n2 yang lebih kecil dari n1.
Menurut hukum Snellius jika seberkas sinar masuk pada suatu ujung fiber optik ( media yang transparan ) dengan sudut kritis dan sinar itu datang dari medium yang mempunyai indeks bias lebih kecil dari udara menuju inti fiber optik ( kuartz murni ) yang mempunyai indeks bias yang lebih besar maka seluruh sinar akan merambat sepanjang inti (core) fiber optik menuju ujung yang satu.
Dewasa ini ada 3 jenis fiber optik yang populer pemamfatannya pada sistem komunikasi Fiber Optik yaitu:
a.   Fiber optik  multimode step indek
b.   Fiber optik multimode Graded
c.    Fiber optik single mode



Pembagian serat optik dapat dilihat dari 2 macam perbedaan :
  1. Berdasarkan Mode yang dirambatkan :
-  Single mode : serat optik dengan core yang sangat kecil, diameter mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul ke dinding cladding.
  • Multi mode  : serat optik dengan diameter core yang agak besar yang membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth dari serat optik jenis ini.


2.    Berdasarkan indeks bias core :
  • Step indeks : pada serat optik step indeks, core memiliki indeks bias yang homogen.
  • Graded indeks : indeks bias core semakin mendekat ke arah cladding semakin kecil.
Jadi pada graded indeks, pusat core memiliki nilai indeks bias yang paling besar. Serat graded indeks memungkinkan untuk membawa bandwidth yang lebih besar, karena pelebaran pulsa yang terjadi dapat diminimalkan.